Kamis, 19 Januari 2012

PUJIAN PENYEMBAHAN ISI DAN DEFINISI

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.PUJIAN DAN PENYEMBAHAN
1.Pujian
a.Definisi Pujian
Pujian adalah ekspresi manusia berupa ungkapan hati yang ditujukan kepada Allah, sebagai tanggapan atas perbuatan-Nya dan juga atas diri pribadi Allah sendiri. Sebagai contoh pada saat bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan diselamatkan oleh Allah dari pengejaran bangsa Mesir, pada saat itulah pujian dinaikkan kepada Allah sebagai ungkapan hati mereka yang penuh sukacita atas apa yang telah Allah lakukan kepada mereka (Kel. 14-15).
Pujian tumbuh dari rasa syukur kepada Allah, yaitu ketika Allah turut mengambil bagian dalam problema kehidupan, maka pada saat itulah rasa syukur dan terima kasih tercipta melalui pujian. Rasa syukur itulah yang menjadi penggerak untuk memuji Allah. Pujian melibatkan pikiran yang yang tertuju kepada Allah kemudian diwujudkan dalam tindakan yang merupakan perbuatan yang memuji Allah.
Pujian kepada Allah lahir dari keputusan untuk bersedia memuji, yang berarti terlepas dari keadaan atau perasaan baik atau buruk, karena pada dasarnya pujian didasarkan atas kebesaran Allah.1 Artinya respons yang terjadi atas perbuatan Allah yang menunjukkan kebesaran Allah, sehingga manusia memuji Allah atas kebesaran-Nya dalam perbuatan-Nya atas kehidupan manusia. Pujian memberikan kekuatan untuk meraih kemenangan atas masalah, tekanan dalam kehidupan manusia. Pujian adalah merupakan senjata yang Allah letakkan dalam diri setiap orang-orang percaya sejak mulai ada dalam dunia (Mat. 21:16) untuk mengalahkan kuasa kegelapan.
Pujian merupakan ekspresi iman yang menunjukkan kepercayaan manusia kepada-Nya atas kuasa-Nya yang bekerja dalam diri tiap orang percaya. Ekspresi iman yang percaya bahwa Allah mengasihi semua orang khususnya yang percaya kepada-Nya. Sehingga Allah melimpahkan berkat serta mujizat dalam kehidupan orang percaya.
Pujian diberikan kepada Allah karena memang Allah layak dipuji (Mzm. 135). Pujian yang dinaikkan kepada Allah tidak mempengaruhi eksistensi Allah sebagai Allah, sebab Ia tetap adalah Allah lepas dari apakah manusia memuji Dia atau tidak.

b.Istilah Pujian dalam Alkitab
(1)Dalam Perjanjian Lama
(a)Halal 

Halal memiliki arti membanggakan, merayakan, menghargai. Kata halal berasal dari kata helel yang berarti pemancaran benda-benda sorgawi. Jadi maksud dari kata halal adalah menjadi terang bercahaya (transparan), menyanjung, merayakan dengan sorak-sorai. Kata halal dalam Perjanjian Lama digunakan sebanyak 113 kali. Bentuk pujian ini harus dipersembahkan dalam suatu sikap kegirangan.2 Contoh puji-pujian dalam Mazmur. 44:9 “Karena Allah, kami nyanyikan puji-pujian”; Mazmur. 18:4 “Terpujilah Tuhan”. Ada kesan bahwa umat Allah harus bermegah-megah mengenai Tuhan.3

(b)Zamar
Zamar memiliki arti memainkan beberapa alat musik, memberikan pujian atau menyanyikan pujian, bermazmur, puji-pujian yang dinyanyikan dengan diiringi dengan alat musik.4 Contoh ayat dalam Firman Tuhan adalah dalam Mazmur 47: 6-7; 57:8-9; 68:4-5; 144:9; 147:7

(c)Yadah
Yadah memiliki arti bersyukur atau memuji, pujian, mengakui, berterima kasih.5 Mengungkapkan suatu tindakan rasa syukur dan terima kasih yang keluar dari hati (Mzm. 111:1; 42:5; 20:1; 43:4)

(d)Sabach
Sabach memiliki arti pujian, kemenangan, kemuliaan, pemujaan dengan suara keras.6 Kata ini menggambarkan ketika umat Israel berada dalam tabernakel dimana semua orang memuji Tuhan dengan suara gaduh. (Mzm. 63:4; 117:1).

(e)Tehillah
Tehillah memiliki arti penyanjungan, sebuah kidung pujian yang selayaknya karena kebajikan-kebajikan. Menyanyi dengan luapan sukacita. Cara ini dipakai dalam konteks sukacita yang meluap-luap. Kata ini dipakai dalam Perjanjian Lama sebanyak 57 kali.7 Contoh dalam Alkitab yaitu dalam Mazmur 40:3; 22:4; 33:1; 34:2.

(2)Dalam Perjanjian Baru
(a)Epainos
Epainos memiliki arti pujian atau penghargaan. Berasal dari bahasa Yunani yang berhubungan dengan kemuliaan Allah.8 Contoh dalam Firman Allah adalah dalam Matius 21:16 yang dalam bahasa Inggris yaitu Laudation, Praise.

(b)Eulogeo
Eulogeo memiliki arti memuji, menyanjung.9 Contoh dalam Alkitab yaitu dalam Matius 21:9 yang memakai kata Eulogemenos yang berarti Blessed yaitu memuji; Markus 11:9; Lukas 1:64; 2:28.

(c)Ainos
Ainos berasal dari kata Aineo yang memiliki arti memuji, menyanjung. Dalam Perjanjian Baru, kata ini digunakan sebanyak 8 kali. Contoh dalam Matius 21:16 memakai kata Ainon yang dalam bahasa Inggris disebutkan Praise of God yang berarti memuji Allah; Lukas 18:43. Kata Ainos juga diartikan sebagai pujian yang dihubungkan dengan suatu keagamaan.10

(d)Humneo
Humneo memiliki arti pujian, menyanyi atau memuji, menyanjung.11 Contoh ayat dalam Firman Tuhan yaitu dalam Markus 14:26 yang dalam bahasa Inggris disebutkan to celebrate God in song yang berarti menyanjung Allah dengan nyanyian.


2.Penyembahan

a.Definisi Penyembahan
Penyembahan lahir dari pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah tersebut lahir dari inisiatif Allah yang terlebih dahulu menyatakan diri-Nya kepada manusia, yaitu lewat karya penebusan-Nya di kayu salib untuk menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Sehingga dari kasih Allah tersebut, menimbulkan kasih dalam diri orang percaya. Ketika orang percaya benar-benar mengasihi Allah berarti dalam seluruh kehidupannya, mereka menempatkan Allah menjadi yang terutama. Menurut Zschech “Inti penyembahan adalah pada saat orang percaya telah memberikan tempat yang terutama bagi Tuhan, dan hal itu adalah hal yang mutlak dalam penyembahan.12”
Penyembahan adalah tindakan yang dipenuhi pemujaan, rasa tunduk dan hormat kepada Tuhan (Mzm. 95:1-2; 96:1-3). Dalam hal ini juga penyembahan merupakan tindakan roh manusia saat berkomunikasi dengan Allah yang terwujud dalam ekspresi lahiriah. Artinya, ketika roh manusia menyembah Allah, ungkapan hati mereka diwujudkan dalam ekspresi fisik yang bervariatif.
Penyembahan merupakan sebuah aksi yang bebas dalam mengekspresikan kasih kepada Allah (Mzm. 18:1-2). Artinya bahwa penyembahan dapat terjadi kapan saja. Karena penyembahan tidak tergantung pada situasi atau hal-hal yang berada di luar manusia seperti, sarana atau fasilitas yang sekirannya dapat membantu penyembahan manusia kepada Allah, dan tempat yang juga sekirannya dianggap dapat mewadahi penyembahan manusia kepada Allah. Penyembahan merupakan suatu bentuk respon yang tepat kepada Allah yang telah memberikan segala sesuatu, yang bertahta dalam kekekalan, kepada Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan. Penyembahan adalah menyembah dengan seluruh keberadaan diri manusia yang memiliki pikiran dan perasaan dan kehendak yang ditaklukkan di bawah kaki Kristus.
Penyembahan adalah bertemu dengan Allah, mengenal serta mengalami ke dalam diri-Nya, memberi syukur serta pujian atas apa yang telah Ia perbuat. 
Menyembah berarti bahwa umat Allah atau orang-orang percaya sedang menyambut Allah untuk berkuasa atas pribadi mereka, menyatukan sifat serta gambar diri-Nya dalam kehidupan mereka, sehingga dibawa kepada suatu tujuan yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

b.Istilah Penyembahan dalam Alkitab
(1)Dalam Perjanjian Lama
(a)Barak
Barak memiliki arti berlutut, memuliakan Allah (sebagai suatu tindakan memuja). Kata ini ditemukan sebanyak 289 kali dalam Perjanjian Lama. Contoh dalam Firman Tuhan yaitu dalam Ulangan 8:10; Mazmur 10:1. Dalam Ulangan 8:10 memakai kata Baw-rak yang berarti to kneel to bless God as an act of adoration yaitu bersujud dengan maksud untuk memuji Allah sebagai suatu tindakan memuliakan Allah13.

(b)Sachah
Sachah memiliki arti menyembah, meniarapkan diri, membungkuk, menundukkan badan, melakukan penyembahan. Secara spesifik kata ini dipakai untuk mengartikan kata bersujud, berharap sebagai tindakan penghormatan.14 Contoh dalam Firman Tuhan yaitu dalam Kejadian 37:7, 9, 10, 12; Imamat 26:1 memakai kata Sachah yang memiliki arti Prostrate; especialy reflex in homage to royalty or God yaitu bersujud; khususnya suatu tindakan dalam penghormatan kepada raja atau kepada Tuhan. Arti yang lain yaitu Bow down yang berarti bersujud

(2)Dalam Perjanjian Baru
(a)Latrueo
Latrueo memiliki arti melayani, menyembah Allah dengan taat dalam setiap upacara yang diadakan untuk menyembah Dia.15 Dalam Perjanjian Baru, kata ini digunakan sebanyak 21 kali. Dan dalam Perjanjian Lama digunakan sebanyak 90 kali. Contoh dalam Alkitab yaitu dalam Lukas 2:37; Kisah para rasul 26:7; Ibrani 12:8. kata Latrueo digunakan dalam konteks pelayanan suatu ibadah, artinya bahwa kata ini sering digunakan dalam hubungannya dengan penyembahan ceremonial dalam tata cara pengorbanan dalam Perjanjian Lama. Sedangkan dalam Perjanjian Baru kata ini menyatakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang Ibrani16, yang pelayanannya bukan ditujukan kepada orang lain melainkan kepada Allah.

(b)Sebomai
Sebomai memiliki arti menyembah. Kata Sebomai berasal dari kata Sebas” yang berarti takut yang mengacu kepada pengertian suatu kekaguman. Dalam Perjanjian baru istilah ini digunakan sebanyak 8 kali.17 Contoh dalam Alkitab yaitu dalam Markus 7:7 Sebomai yang berarti to revere yang berarti memuja, Adore yang berarti menyanjung dan Worship yang berarti menyembah.

(c)Proskuneo
Proskuneo berarti penyembahan (Yoh. 4:20-24), melakukan penghormatan kepada…, Prostration in homage yang berarti sujud dalam penghormatan. arti lain yaitu mencium sebagai bukti penghormatan. Kata ini digunakan sebanyak 60 kali dalam Alkitab.18
3.Pujian dan Penyembahan
a.Pujian dan penyembahan dalam Alkitab
(1)Makna Pujian dan Penyembahan dalam Perjanjian Lama
Pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Lama bersifat progresif yang terus berkembang dan berkesinambungan. Ketika Allah menyatakan diri kepada umat-Nya selalu disesuaikan dengan keadaan serta situasi yang senantiasa berubah-ubah saat itu. Selain itu pujian dan penyembahan pada masa Perjanjian Lama bersifat Liturgikal19, yaitu bahwa Allah menetapkan suatu tata cara kepada umat-Nya supaya mereka dapat menghampiri Allah. Satu ciri khas liturgikal pujian dan penyembahan yang dilakukan umat Israel adalah berupa pengorbanan.
Pengorbanan merupakan unsur dalam pujian dan penyembahan umat Israel. Pengorbanan ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan serta pengampunan atas dosa-dosa mereka. Mempersembahkan korban adalah suatu jalan untuk memulihkan persekutuan manusia dengan Allah.
Makna pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Lama adalah bahwa umat Israel pada masa itu memiliki tradisi dalam penyembahan yang bersifat keimamatan, pemujaan, ketundukan kepada otoritas tertinggi dan bersifat turun temurun.20 Artinya bahwa tradisi dalam penyembahan mereka kepada Allah ialah melalui imam yang bisa berhubungan langsung kepada Allah. Dan imam tersebut adalah jabatan yang bersifat turun temurun yang berasal dari keturunan Lewi. Dan dalam kehidupan pemerintahan umat Israel secara langsung tunduk kepada Allah sebagai penguasa tertinggi dan dalam penyembahan atau pemujaan mereka adalah ditujukan secara langsung kepada Allah sebagai otoritas atau pemegang kekuasaan tertinggi. Selain itu makna pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Lama, tepatnya adalah respons atau tanggapan atas perbuatan Allah dalam kehidupan umat Israel saat itu.
Sehubungan dengan pujian dan penyembahan umat Israel saat itu, Allah memilih kemah suci sebagai tempat Ia hadir secara khusus dalam menyatakan diri-Nya. 
Makna pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Lama, khususnya pada jaman sebelum masa keluarnya bangsa Israel dari Mesir adalah respon atau tanggapan atas pernyataan Allah kepada manusia, respon atau tanggapan yang menyatakan keyakinan atau ucapan syukur atas janji-janji Allah saat Ia menyatakan Diri. Sebagai contoh pada masa Abraham, Ishak dan Yakub, Allah sering menampakkan kepada mereka dengan menyatakan bahwa Dia adalah Allah yang kudus dan Allah yang menggenapi setiap janji-janji-Nya.

(2)Makna Pujian dan Penyembahan dalam Perjanjian Baru
Pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Baru adalah penggenapan pewahyuan Allah selama masa Perjanjian Lama yaitu pernyataan diri Allah kepada umat Israel yang bertujuan untuk memperkenalkan diri-Nya agar terjadi hubungan antara Allah dengan umat-Nya.
Penggenapan tersebut terjadi dalam pribadi Yesus Kristus (Yoh. 1:18). Yesus telah menjadi dasar pujian dan penyembahan. Umat Allah tidak lagi menghadap Allah dengan suatu bentuk liturgi umat Israel pada masa Perjanjian Lama, melainkan dalam Roh dan Kebenaran (Yoh. 4:23-24).
Adapun makna pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Baru adalah Yesus memulihkan kembali persekutuan antara manusia dengan Allah melalui karya penebusan-Nya. Keselamatan yang dianugerahkan oleh Yesus merupakan penggenapan dari pewahyuan Allah, McArthur mengatakan: “Bapa mengutus Kristus untuk mencari dan menyelamatkan dengan tujuan khusus, untuk menghasilkan umat yang menyembah.21” Sehingga orang-orang percaya dapat menyembah kepada Yesus dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).
Menurut Barclay pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Baru “Seperti terkoyak dan tersingkapnya tabir bait suci yang membuka jalan ke hadirat Allah, demikian halnya tubuh Kristus menyingkapkan kebesaran yang sepenuhnya dari kasih-Nya yang sekaligus membuka jalan menuju kepada Allah.22” Yaitu tentang Yesus sebagai jalan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6). 
Makna pujian dan penyembahan dalam Perjanjian Baru selain pada saat Yesus yang mengatakan kepada wanita Samaria (Yoh. 4:23) tentang penyembahan yang benar adalah terutama tentang Roh dan Kebenaran23, tradisi penyembahan dalam Perjanjian Baru setelah masa Yesus adalah bersifat perhimpunan atau perkumpulan. Contoh dalam Kisah para rasul 2:46.

b.Dampak pujian dan penyembahan
Pada saat pujian dan penyembahan dinaikkan kepada Allah dengan penuh iman, maka iman yang menunjukkan kepercayaan bahwa Allah bekerja dengan kuasa-Nya di dalam diri manusia sehingga mendatangkan kekuatan yang dapat mengubah keadaan. Seperti pada saat manusia diperhadapkan dengan tekanan atau permasalahan, maka iman yang menyatakan kepercayaan manusia tersebut kepada Allah, yakin bahwa Allah bekerja dalam dirinya untuk memberi kemampuan dalam mengatasi masalah. Sebagai contoh ketika raja Yosafat menaikkan pujian (ay. 19) dan penyembahan (ay. 18) kepada Allah disertai dengan iman sehingga mendatangkan kekuatan yang mengalahkan situasi terjepit (II Taw. 20:1-30).
Allah dari semula meletakkan pujian dalam mulut setiap orang percaya sebagai senjata untuk membungkam musuh (Mat. 21:16), menurut Cornwal mengatakan:
“Pujian adalah sangat berkuasa, keefektifannya abadi, karena pujianlah umat Allah sanggup bertindak dalam dunia roh. Pujian menyanggupkan umat Allah bertempur melawan orang-orang durhaka, kuasa-kuasa kegelapan serta memperoleh kemenangan atas mereka.24”

Pada saat menaikkan pujian dan penyembahan, berarti memberikan atau menyalurkan kuasa Allah dalam diri manusia atau Allah memampukan orang percaya yang pada akhirnya dapat mengubah keadaan serta memberi dampak. Dampak yang terjadi pada saat pujian dan penyembahan dinaikkan antara lain;

(1)Musuh dapat dikalahkan.
Pada saat umat Allah meninggikan nama Allah dalam pujian dan penyembahan, pada saat yang sama pula kuasa kegelapan dihancurkan. Sebagai contoh pada saat raja Saul diganggu oleh roh jahat, Daud diperintahkan oleh raja Saul untuk menghiburkan hatinya. Pada saat Daud menaikkan pujian dan penyembahan kepada Allah melalui permainan kecapi, maka pada saat yang sama pula roh jahat undur dari pada raja Saul (I Sam. 16:14, 16, 19, 22-23).
Pujian dan penyembahan merupakan sarana yang Allah pakai dalam menyatakan kuasa-Nya untuk mengusir kuasa kegelapan yang mengikat kehidupan manusia pada masa kini. Pada saat pujian dan penyembahan dinaikkan kepada Allah, saat itu juga Allah berperang secara adikodrati melawan kuasa-kuasa kegelapan.25

(2)Pujian dan penyembahan dapat mempererat hubungan manusia dengan Allah.
Allah memanggil orang percaya kepada suatu pengenalan yang intim dengan Allah. Allah ingin supaya umat Allah secara pribadi dapat mengenal-Nya. Pujian dan penyembahan adalah salah satu cara dimana Allah menyatakan diri-Nya untuk dapat dikenal oleh umat-Nya. Menurut Hinn: “Pujian memperkenalkan saya kepada Dia, dan penyembahan adalah ketika saya menyerahkan hati saya kepada-Nya.26” Dengan demikian melalui pujian dan penyembahan selain akan membuat orang-orang percaya bertumbuh dalam kehidupan kekristenan mereka, juga dapat membuat mereka bertumbuh dalam pengenalan kepada Kristus.
Pujian dan penyembahan yang dilakukan umat percaya dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, menyebabkan mereka semakin menyadari kuasa, kebesaran serta kasih, kesetian serta keajaiban Allah dan semakin mereka membangun hubungan intim dengan Tuhan. 

(3)Pujian dan penyembahan memberikan kekuatan bagi orang percaya.

Pujian dan penyembahan adalah salah satu cara umat Allah untuk mengekspresikan iman kepada Allah. Manusia cenderung menjadi lemah pada saat menghadapi suatu permasalahan. Bila pujian dan penyembahan dinaikkan kepada Allah, dengan iman yang penuh keyakinan sebagai sikap yang penuh syukur, maka Allah akan bertindak (Ayb. 9:16; Mzm. 3:5; 18:7). Sebagai contoh raja Daud menaikkkan pujian dan penyembahan pada saat ia berada dalam pengejaran.


c.Alasan Manusia Memuji dan Menyembah Allah
Sebagai umat Allah yang telah mengalami penebusan oleh darah Yesus harus dapat mengerti betapa pentingnya hidup dalam persekutuan dengan Allah, karena sangat besar manfaatnya apabila umat Allah memuji dan menyembah Allah dalam suatu kehidupan yang bersekutu dengan Allah. Ada beberapa alasan mengapa umat Allah memuji dan menyembah Allah.

(1)Manusia diciptakan oleh Allah untuk memuji dan menyembah Allah. Dalam Katekismus singkat Westminster mencatat bahwa tujuan Allah ketika menciptakan manusia adalah mempermuliakan Allah serta memperkenankan Dia selamanya. (Why. 4:11; Mzm. 73:25-26; I Kor. 10:31).27
(2)Allah memerintahkan manusia untuk melakukan hal itu (Mzm. 150:1).
(3)Allah bersemayam diatas pujian umat-Nya (Mzm. 22:4).
(4)Allah patut dipuji atas semua perbuatan-Nya (Mzm. 135)
(5)Allah layak atas penyembahan manusia. Kebesaran Allah dan kebaikan-Nya yang tidak terbatas, membuat Dia memang layak atas pengakuan dan penghargaan manusia sebagai Allah yang Maha Kuasa.
(6)Allah memberi kemampuan ilahi kepada setiap orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus. Kemampuan ilahi itu adalah memuji dan menyembah Allah.
(7)Pujian dan penyembahan adalah ungkapan hati manusia yang penuh sukacita dan ucapan syukur serta terima kasih dengan cara berupa sikap penghargaan dan penghormatan yang ingin ditujukan kepada Tuhan.
(8)Pujian dan penyembahan adalah sebagai senjata rohani yang Allah tempatkan dalam diri orang-orang percaya untuk mengalahkan musuh (Mzm. 149:6-9).
(9)Pujian dan penyembahan kepada Allah mendatangkan mujizat (II Taw. 20:21).28
(10)Pada saat memuji dan menyembah Allah, maka hubungan dan pengenalan kepada Allah semakin bertumbuh.
(11)Pujian dan penyembahan yang dinaikkan kepada Allah, menyenangkan hati Allah. 
(12)Pujian dan penyembahan mewujudkan suatu kehidupan yang memuliakan Allah.

d.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pujian dan Penyembahan
(1)Roh Kudus
Roma 8:15-16 “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!", Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”. Roh Kudus memampukan orang-orang percaya untuk dapat bersekutu dengan Allah, dengan bersaksi bersama-sama mereka yang menyatakan bahwa mereka adalah anak-anak Allah.



(2)Sumber daya manusia
Faktor sumber daya manusia juga menentukan kualitas dalam pelayanan pujian dan penyembahan. Dengan kata lain, adanya orang-orang yang berkualitas dalam bidang pujian dan penyembahan. Sebagai contoh orang yang melayani khusus di bidang musik, orang yang khusus melayani sebagai penyanyi dan pemimpin pujian. Dengan kata lain yaitu orang-orang yang terpilih untuk dihadapan Tuhan sebagai imam yang membawa umat Allah ke hadapan Allah.
Kualitas dari keindahan musik itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan dari orang yang memainkannya, walaupun dalam pelayanan pujian dan penyembahan keahlian dalam memainkan suatu alat musik tidak mutlak diperlukan, tetapi akan lebih baik apabila kemampuan yang baik dari orang-orang yang berkualitas dalam bidang masing-masing tersebut disertai dengan pimpinan Roh Kudus.

(3)Sarana atau Fasilitas
Musik merupakan pendukung pujian dan penyembahan juga merupakan sarana ungkapan terima kasih dan rasa syukur umat Allah atas kehidupan yang telah diubahkan. Musik juga dapat dipakai untuk mengungkapkan kekaguman atas pribadi Yesus sebagai Allah pencipta, penebus dan sebagai juru selamat. 
Dalam Firman Allah, musik diperdengarkan pada saat bangsa Israel bebas dari pengejaran bangsa Mesir, saat itulah pujian dan penyembahan dinaikkan kepada Allah dengan diiringi oleh permainan kecapi dan rebana (Kel. 15:20).
Alat musik adalah komponen penunjang pujian dan penyembahan. Dalam Perjanjian Lama, pada masa raja Daud, atas perintah Tuhan melalui nabi-Nya yang bernama Gad sang pelihat, supaya ditempatkan dalam rumah Tuhan yaitu orang-orang Lewi dengan ceracap, gambus dan kecapi (II Taw. 29:25). Dan pada masa sekarang ini, alat musik tetap merupakan komponen penunjang dalam pujian dan penyembahan. 

e.Hambatan dalam Pujian dan Penyembahan
Roma 7:18-19 “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada didalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki yaitu yang jahat yang aku perbuat”. 
Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa sebenarnya dalam diri manusia menghendaki apa yang baik tetapi tidak dapat melaksanakannya. Tetapi perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang tidak ingin dilakukan justru dilakukan.
Ini adalah sebuah pergumulan dalam diri manusia, pada saat hendak memuji dan menyembah Allah. Sebuah kekuatan yang ada dalam diri manusia yang berusaha mencegah keintiman pribadi dengan Allah yaitu diri manusia itu sendiri. Antara lain dosa, kebiasaan, perasaan bersalah atau intimidasi iblis, aktivitas, tekanan atau permasalahan.


(1)Dosa
Matius 5:23-24 mengatakan “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Penghalang hubungan orang percaya dengan Allah adalah dosa. Allah tidak berkenan atas dosa, pada saat hendak menghadap Dia dalam pujian dan penyembahan. Dosa adalah penghalang hubungan antara Allah dengan umat-Nya dan merupakan penghalang untuk dapat masuk dalam hadirat Allah. Allah menghendaki umat-Nya berseru dengan hati yang murni (II Tim. 2:22).

(2)Kebiasaan
Menganggap bahwa pelayanan pujian dan penyembahan adalah suatu kegiatan biasa yang hanya dilaksanakan dalam kegiatan ibadah saja. Akibatnya kurang adanya aplikasi hidup dari pelayanan pujian dan penyembahan. Yaitu tidak membangkitkan kerinduan kepada Allah dalam pujian dan penyembahan serta kreativitas dalam pelayanan. Setiap orang percaya mengetahui bahwa dalam hatinya mereka perlu memuji dan menyembah Allah. Akan tetapi bagi beberapa orang dewasa ini pelayanan pujian dan penyembahan dalam suatu ibadah menjadi suatu kebiasaan saja.



(3)Intimidasi iblis
Dosa merupakan penghalang umat Allah untuk dapat menghadap Allah, penghambat untuk dapat memuji dan menyembah Allah. Ketika umat Allah telah memohon pengampunan dari Allah melalui iman yang percaya kepada Allah, itu berarti bahwa Allah telah memperkenankan umat-Nya untuk memuji dan menyembah-Nya. Tetapi terkadang iblis mencoba untuk mengingatkan kembali kesalahan dan dosa-dosa yang pernah terjadi di masa lalu, sehingga timbul perasaan bersalah, perasaan tidak layak yang mengakibatkan manusia menjadi tidak percaya diri dan takut untuk menghadap Allah dalam persekutuan pujian dan penyembahan.
Perasaan bersalah dan perasaan tidak layak adalah merupakan intimidasi iblis untuk menjatuhkan iman orang-orang percaya bahwa mereka sebenarnya telah mendapatkan pengampunan (I Yoh. 1:9).

(4)Permasalahan 
Ketika manusia mengahadapi permasalahan dalam hidup mereka, fokus mereka menjadi berubah, pikiran mereka dipenuhi dengan banyak hal, banyak tuntutan dari permasalahan itu yang terkadang dapat membuat hati sulit untuk dapat bersyukur kepada Allah dalam pujian dan penyembahan. Pada saat tekanan atau masalah muncul dalam perjalanan kehidupan manusia, perhatian mereka terfokus kepada apa yang terjadi, sehingga dalam memberikan perhatiannya kepada Allah seperti dalam persekutuan doa, dalam suatu ibadah kepada Tuhan, mereka cenderung menjadi tidak bisa berkonsentrasi pada saat memuji dan menyembah.

(5)Kesibukan 
Aktivitas yang berlebihan bisa membuat persekutuan pribadi dengan Allah menjadi berkurang dan tidak ada kedisiplinan dalam hal waktu yang seharusnya diberikan kepada Allah. Aktivitas yang terlalu banyak juga dapat mengakibatkan seseorang kurang dapat berkonsentrasi saat memuji dan menyembah. Sebagai contoh kisah tentang Marta dan Maria, pada saat Yesus pergi ke tempat dimana mereka tinggal (Luk. 10:40-42). Martha sibuk dengan semua persiapan yang harus ia kerjakan, tanpa mengerti bagian yang terbaik yang seharusnya ia ambil yaitu duduk dibawah kaki Yesus. Lain halnya dengan Maria yang tahu bagian terbaik yang ia ambil yaitu lepas dari semua kesibukan dan segala aktivitasnya untuk memberikan waktu bagi Tuhan yaitu tinggal dalam hadirat-Nya. 
Aktivitas pelayanan juga tidak dapat menggantikan persekutuan pribadi dengan Allah. Disiplin dalam meluangkan waktu pribadi dengan Allah adalah tidak bisa tidak bagi orang-orang percaya dengan maksud agar supaya kehidupan bersekutu dengan Allah akan senantiasa terus terjaga.

f.Ekspresi Pujian dan Penyembahan
(1)Menyanyi (Mzm. 47:7; 69:31-32; 98:1; 101:1; 105:2; 147:7; I Taw. 5:12). Fungsi dari menyanyi adalah memberi kita rasa bebas dalam puji-pujian.29 Menyanyi adalah ekspresi dari hati yang terungkap dalam pujian dan penyembahan kepada Allah. Alkitab memberitahukan bahwa Allah memberi umat-Nya nyanyian (Mzm. 40:4).
(2)Mengangkat kepala (Mzm. 123:1). Merupakan ekspresi jiwa seseorang yang berharap kepada Allah, juga dapat berarti suatu kekaguman.
(3)Menadahkan tangan (Mzm. 143:6). Sikap ini menggambarkan suatu kerinduan akan Allah.
(4)Berteriak (Mzm. 28:2). Merupakan ekspresi yang menyatakan hati yang bersukacita kepada Allah.
(5)Menari (Mzm. 150:4; I Sam. 6:14-16). Menari adalah menggambarkan sikap hati yang penuh syukur.
(6)Berjalan dan melompat (Kis. 3:8). Merupakan ekspresi bersukacita atas perbuatan Allah.
(7)Bersorak-sorai (Why. 19:6; Flp. 4:4; Yes. 61:10; Mzm. 149:2; Ef. 5:9). Ekspresi yang menggambarkan luapan hati yang bersukacita dengan menimbulkan suasana yang gaduh, berisik.
(8)Memainkan alat musik (I Taw. 23:5; II Taw. 2:12; Mzm. 150:3-5). Merupakan anjuran dalam Firman Allah. Paulus paling sedikit dua kali menganjurkan orang-orang percaya untuk bermazmur (Ef. 5:18-19; Kol. 3:16). Arti mazmur itu sendiri adalah nyanyian pujian yang diiringi oleh kecapi atau alat musik30.
(9)Berbahasa roh dan berbahasa asing (Kis. 2:4, 8-11).
(10)Menyanyi dalam bahasa roh (I Kor. 14:15).
(11)Bertepuk tangan (Mzm. 47:2; 149:3; II Raj. 11:12).31 Merupakan salah satu cara dimana Allah memerintahkan umat-Nya dalam memuji Tuhan. Bertepuk tangan adalah ekspresi yang menujukkan betapa senang hati orang-orang percaya kepada Tuhan.
(12)Berdiam diri (Mzm. 46:11; Hab. 2:20).
(13)Tertawa (Mzm. 126:1-2; Pkh. 3:4). Merupakan ekspresi yang menggambarkan luapan ucapan syukur serta sukacita kepada Allah, pada saat Allah telah memulihkan keadaan orang-orang percaya dari tekanan atau permasalahan.
(14)Membungkuk, tersungkur, bersujud (Flp. 2:10; Mzm. 95:6; Why. 19:4). Merupakan ekspresi sikap hati yang menunjukkan suatu penghormatan kepada Tuhan, dan merupakan suatu sikap hati yang mau merendahkan diri dihadapan Tuhan.

g.Macam-macam Pujian dan Penyembahan
Pujian dan penyembahan dapat dilakukan secara pribadi melalui persekutuan pribadi ataupun dapat dilakukan secara bersama-sama melalui pertemuan-pertemuan ibadah (persekutuan bersama-sama).

(1)Pujian dan penyembahan secara pribadi
Persekutuan dengan Allah secara pribadi dimaksudkan agar tiap pribadi memiliki hubungan lebih dekat dengan Allah. Persekutuan secara pribadi memungkinkan bagi manusia untuk lebih leluasa dan lebih terbuka, kepada Allah, ketika hendak menyampaikan segala perasaan hati, permasalahan bahkan pergumulan hidup mereka, tanpa takut diketahui oleh orang lain. Dalam pujian dan penyembahan kepada Allah, orang percaya dapat menyampaikan ungkapan hati secara pribadi kepada Allah.

(2)Pujian dan penyembahan secara bersama
Pujian dan penyembahan yang dilakukan secara kelompok baik dalam gereja maupun dalam suatu persekutuan kelompok kecil, menyebabkan iman semakin kokoh. Pada saat umat Allah berkumpul bersama, memuji dan menyembah Allah dengan bersehati maka Allah dapat memakai orang lain untuk memberikan jawaban atas persoalan-persoalan pribadi. Misalnya lewat mazmur yang disampaikan atau kata-kata pujian yang bisa dijadikan peneguhan. 
Dalam Pujian dan penyembahan secara kelompok, dapat mempersatukan atau mempererat tubuh Kristus. Pujian dan penyembahan secara bersama-sama adalah sarana dimana umat Allah dapat saling membangun, saling menguatkan, saling menasihati, bekerja sama.
Dalam Perjanjian Lama, pujian dan penyembahan secara bersama-sama telah dilakukan oleh umat Israel. Mereka mempersembahkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan dalam bentuk nyanyian bersama-sama. Mereka sering mempersembahkan puji-pujian yang diringi kecapi, terompet, seruling, canang dan rebana. Kadang-kadang mereka memuji Tuhan dengan memakai gerakan seperti bertepuk tangan, meloncat-loncat penuh sukacita, bersorak-sorai penuh kemenangan.32

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar